back to top
Senin, Mei 25, 2026

Dengkur Sang Orator Ulung dan Ketakutan yang Tak Pernah Lahir

Oleh: Amiruddin
Ketua Bidang Ketahanan Pangan dan Pertanian HMI Cabang Kota Bogor

Dalam sebuah ruang kolektif bernama sekretariat, tersimpan ironi sosial yang menarik untuk direnungkan. Di tempat itu hidup sekelompok pemuda bersama seorang orator ulung—figur yang dikenal lantang menyuarakan gagasan, kritik, dan semangat perubahan. Namun ketika malam tiba dan suasana sekretariat mulai lengang, dengkurannya yang keras justru menghadirkan paradoks yang tak terduga.

Secara logika, suara tersebut seharusnya mampu menjadi ancaman bagi kawanan tikus yang setiap malam keluar masuk melalui lubang di belakang dapur. Akan tetapi, kenyataan berkata sebaliknya. Tikus-tikus itu bukan hanya tidak takut, melainkan tampak terbiasa. Mereka hadir dengan tenang, seolah dengkuran tersebut hanyalah alunan yang menemani keberlangsungan hidup mereka.

Mereka datang secara rutin, mengambil sisa makanan, menggerogoti sudut-sudut ruangan, hingga perlahan membangun wilayah kekuasaan di tempat yang bukan milik mereka. Kondisi itu kemudian menimbulkan keresahan di kalangan penghuni sekretariat. Bukan semata karena keberadaan tikus-tikus tersebut, melainkan karena muncul kesadaran bahwa suara yang keras ternyata tidak selalu memiliki daya ubah terhadap keadaan.

Pada hakikatnya, ancaman terbesar bukanlah ketika keburukan hadir secara terang-terangan, melainkan ketika keburukan mulai merasa nyaman hidup di tengah kelalaian manusia.

Fenomena sederhana itu sesungguhnya dapat dibaca sebagai alegori sosial dan politik yang relevan dengan kondisi bangsa hari ini. Negara, sebagaimana sekretariat tersebut, tengah menghadapi berbagai tekanan yang tidak ringan. Gejolak nilai tukar dolar, ketidakpastian ekonomi global, meningkatnya keresahan sosial, hingga stabilitas politik yang terus diuji menjadi kenyataan yang tidak dapat dipandang sebelah mata.

Dalam situasi demikian, rakyat membutuhkan lebih dari sekadar pidato dan retorika. Sejarah telah berkali-kali membuktikan bahwa kata-kata yang lantang tidak akan bermakna apabila tidak diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

Dalam konteks ini, Prabowo Subianto sebagai kepala negara memikul tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa kepemimpinan tidak berhenti pada narasi optimisme belaka. Kepemimpinan sejati harus hadir melalui kebijakan konkret yang mampu menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat sektor usaha, melindungi masyarakat kecil, serta memastikan negara tidak kehilangan arah di tengah derasnya tekanan global.

Sebab pada dasarnya, rakyat tidak hanya ingin mendengar bahwa keadaan akan membaik. Rakyat ingin melihat keberanian negara dalam bekerja memperbaiki keadaan.

Namun di sisi lain, tulisan ini juga hendak menegaskan bahwa menjaga bangsa bukan hanya tugas pemerintah. Masyarakat tidak boleh menjadikan kritik sebagai satu-satunya bentuk kontribusi terhadap negara. Kritik memang penting dalam sistem demokrasi, tetapi kritik tanpa kesadaran kolektif hanya akan melahirkan kebisingan yang melelahkan.

Negara tidak akan berdiri kokoh apabila rakyatnya hanya gemar menunjuk kesalahan tanpa ikut menjaga fondasi bersama. Sebab sebagaimana sekretariat tadi, lubang kecil yang dibiarkan terbuka akan selalu menjadi jalan masuk bagi ancaman yang perlahan menggerogoti isi rumah.

Dalam Islam, perubahan sosial tidak pernah dipahami sekadar sebagai aktivitas berbicara. Islam mengajarkan bahwa perubahan harus diwujudkan melalui tindakan nyata sesuai kemampuan masing-masing. Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Hadis tersebut mengandung pelajaran yang sangat mendalam: bahwa perubahan tidak cukup berhenti pada perkataan. Lisan memang dapat menggugah kesadaran, tetapi tindakanlah yang mampu mengubah keadaan.

Nilai serupa ditegaskan pula dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa perubahan bukanlah sesuatu yang turun begitu saja tanpa usaha manusia. Perubahan membutuhkan kesadaran, keberanian, kerja sama, dan tindakan kolektif. Bangsa yang ingin maju tidak cukup hanya dipenuhi pidato tentang perubahan, tetapi juga harus dipenuhi manusia-manusia yang bersedia bekerja demi perubahan itu sendiri.

Karena itu, persoalan bangsa hari ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan saling menyalahkan antara pemerintah dan rakyat. Pemerintah membutuhkan keberanian untuk bertindak, sementara rakyat membutuhkan kesadaran untuk ikut menjaga stabilitas sosial, ekonomi, dan moral bangsa.

Pada akhirnya, negara adalah rumah bersama. Dan rumah tidak akan tetap berdiri hanya karena penghuninya pandai berbicara tentang kebocoran atap atau lubang tikus di belakang dapur, melainkan karena adanya kesediaan bersama untuk memperbaikinya.

Sekretariat yang dipenuhi tikus-tikus itu pada akhirnya mengajarkan satu hal penting: bahwa ancaman tidak pernah takut pada suara semata. Ancaman hanya takut pada persatuan, kesadaran, dan tindakan nyata.

Sebab sebesar apa pun suara diteriakkan, ia akan tetap menjadi gema kosong apabila tidak diiringi keberanian untuk menutup lubang yang selama ini dibiarkan terbuka.

Pewarta : Red
Editor : All
Copyright © LintasUpdate 2026

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles

error: Content is protected !!