Bogor | LintasUpdate — Menu pembagian makanan bagi balita di wilayah Leuwiliang menuai sorotan publik setelah beredar paket konsumsi yang dinilai belum sepenuhnya memenuhi prinsip gizi seimbang. Paket tersebut berisi roti manis, susu UHT, telur, serta buah apel dan jeruk. Selasa (24/2/2026).
Dalam paket yang diterima, terdapat dua roti manis bertabur gula, dua kotak susu UHT plain, dua butir telur, satu apel, dan satu jeruk. Secara kasat mata, menu tersebut telah mengandung unsur protein hewani dan buah. Namun demikian, sejumlah pihak menilai komposisinya belum sesuai dengan standar pemenuhan gizi balita sebagaimana diatur dalam pedoman nasional.
Berdasarkan pedoman pemenuhan gizi balita, menu ideal seharusnya mencakup sumber karbohidrat utama seperti nasi atau umbi-umbian, protein hewani, sayuran, buah, serta lemak sehat dengan porsi yang disesuaikan usia anak.
Seorang ahli gizi masyarakat menyebutkan bahwa roti manis bukan pilihan karbohidrat utama yang direkomendasikan untuk balita karena kandungan gula tambahannya relatif tinggi. Selain itu, dalam paket tersebut tidak terdapat sayuran yang merupakan komponen penting dalam pembentukan kebiasaan makan sehat sejak dini.
“Balita membutuhkan asupan yang seimbang. Tidak cukup hanya protein dan buah, tetapi juga harus ada sayuran dan sumber energi utama yang tepat. Tekstur makanan pun perlu diperhatikan agar aman dan mudah dicerna,” ujar seorang praktisi kesehatan anak.
Selain komposisi, aspek keamanan konsumsi juga menjadi perhatian. Buah apel utuh, misalnya, berpotensi menimbulkan risiko tersedak apabila tidak dipotong kecil sesuai standar penyajian untuk anak usia bawah lima tahun.
Apabila paket tersebut dimaksudkan sebagai makanan tambahan atau selingan, menu tersebut dinilai masih dapat diterima dengan beberapa perbaikan, seperti mengganti roti manis dengan sumber karbohidrat yang lebih sehat serta menambahkan sayuran. Namun, jika dijadikan sebagai menu utama dalam program pemenuhan gizi balita, komposisinya dianggap belum memenuhi prinsip keseimbangan gizi secara optimal.
Sorotan ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi pihak penyelenggara agar setiap program pemenuhan gizi benar-benar mampu mendukung tumbuh kembang anak secara maksimal. Mengingat, periode balita merupakan fase emas pertumbuhan yang sangat menentukan kualitas kesehatan di masa depan.
Pewarta : Heru Permana Editor : All Copyright © LintasUpdate 2026






